Peluk Harapan Anak, Tapi Siapa Menuntaskan Akar Stunting?

Oleh: Redaksi Ruang News Indonesia

Lampung Selatan (Senin 4/8/2026) — Foto-foto penuh senyum kembali menghiasi pemberitaan pemerintah. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan, Zita Anjani, mengunjungi anak-anak yang berisiko dan mengalami stunting di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo. Dalam kunjungan tersebut, bantuan berupa susu, bahan kebutuhan pokok, serta mainan edukatif diserahkan kepada 10 anak sebagai bentuk kepedulian terhadap pemenuhan gizi dan tumbuh kembang mereka.

Kegiatan tersebut tentu patut diapresiasi. Kepedulian terhadap anak-anak merupakan bagian penting dalam upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

Namun, setelah kamera dimatikan dan bantuan selesai dibagikan, publik masih menyisakan satu pertanyaan besar.

Apakah stunting akan selesai hanya dengan kunjungan dan bantuan sesaat?

Stunting bukan sekadar persoalan kekurangan susu atau makanan tambahan. Ia merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari kemiskinan, rendahnya daya beli masyarakat, sanitasi yang belum memadai, akses air bersih, pola asuh, edukasi gizi, hingga pelayanan kesehatan ibu dan anak yang harus berjalan secara berkesinambungan.

Karena itu, masyarakat berharap penanganan stunting tidak hanya hadir saat ada agenda kunjungan, tetapi menjadi gerakan nyata yang berlangsung setiap hari.

Anak-anak membutuhkan asupan gizi setiap hari, bukan hanya ketika ada penyaluran bantuan.

Mereka membutuhkan air bersih setiap hari, bukan hanya ketika pejabat datang.

Mereka membutuhkan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, bukan hanya ketika menjadi bagian dari laporan kegiatan.

Akar Masalah Jangan Diabaikan

Berbagai kajian pemerintah menunjukkan bahwa penyebab stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya:

  • Kemiskinan yang membatasi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan gizi.
  • Sanitasi lingkungan dan akses air bersih yang belum optimal.
  • Kurangnya edukasi mengenai gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
  • Rendahnya konsumsi protein hewani.
  • Pendampingan Posyandu yang belum merata.
  • Sinergi lintas sektor yang perlu terus diperkuat hingga tingkat desa.

Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak sebelum bayi lahir, bukan menunggu anak dinyatakan mengalami stunting.

Jangan Menunggu Anak Menjadi Korban

Program pencegahan stunting seharusnya lebih mengutamakan langkah preventif dibanding kuratif.

Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu:

  • memastikan seluruh ibu hamil memperoleh pendampingan gizi secara rutin;
  • mengaktifkan Posyandu dengan pemantauan pertumbuhan balita setiap bulan;
  • mempercepat pembangunan sanitasi dan akses air bersih;
  • mengoptimalkan Dana Desa untuk ketahanan pangan dan pencegahan stunting;
  • memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan, pemerintah desa, PKK, kader Posyandu, dan Puskesmas agar intervensi dilakukan lebih cepat sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Yang Dinanti Masyarakat

Masyarakat tentu mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan kepada anak-anak. Namun, yang lebih dinantikan adalah hasil nyata berupa terus menurunnya angka stunting di Kabupaten Lampung Selatan dari tahun ke tahun.

Keberhasilan program semestinya tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang disalurkan atau kegiatan yang dipublikasikan, melainkan dari semakin sedikitnya anak yang mengalami gagal tumbuh.

Karena pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan seremoni.

Mereka membutuhkan kebijakan yang bekerja setiap hari.


Catatan Redaksi

Tulisan ini disusun berdasarkan informasi yang dihimpun dari website resmi Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serta publikasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lampung Selatan, kemudian dipadukan dengan analisis editorial, berbagai kajian mengenai pencegahan stunting, serta aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat sebagai bentuk kontrol sosial yang konstruktif. Kritik dan masukan dalam artikel ini tidak ditujukan kepada individu, melainkan untuk mendorong penguatan kebijakan publik agar penanganan stunting tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menyentuh akar persoalan secara berkelanjutan, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Oleh: Redaksi Ruang News Indonesia

#RuangNewsIndonesia #LampungSelatan #Stunting #PKK #Diskominfo #PemerintahKabupatenLampungSelatan #Kesehatan #GiziAnak #Editorial #KritikMembangun #CegahStunting #UntukMasaDepanAnak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *