OPINI REDAKSI RUANG NEWS INDONESIA
LAMPUNG SELATAN — Ada sesuatu yang menarik dari Desa HELAU. Namanya indah, konsepnya lengkap, dan bahkan mendapat apresiasi sebagai program yang berpotensi menjadi best practice pemberdayaan masyarakat. HELAU merupakan akronim dari Hijau, Elok, Lestari, Aman dan Berdaya yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebagai gerakan bersama untuk menghubungkan berbagai aspek pembangunan desa.
Stakeholder and Government Engagement Manager ASB South and South-East Asia, Rofiqul Hidayat, menilai Desa HELAU memiliki keunikan karena tidak berhenti sebagai gerakan kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi berkembang menjadi pendekatan pemberdayaan masyarakat. Penilaian itu disampaikan dalam audiensi dan kunjungan Paluma Nusantara bersama ASB South and South-East Asia dalam rangka koordinasi Program Green Pro 2025–2028, Senin (21/9/2026).
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan pun menjelaskan bahwa HELAU mencakup banyak hal: kesehatan, ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, rumah kumuh, lingkungan, keamanan, pemberdayaan masyarakat hingga pariwisata. Melalui konsep Teras HELAU, penerima program bedah rumah juga diarahkan memiliki kebun, kolam dan kandang sebagai sumber pangan sekaligus kegiatan produktif.
Semua terdengar menjanjikan.
Tetapi justru karena terdengar menjanjikan, publik berhak mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak terlalu nyaman: HELAU ini akan menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat, atau hanya menjadi gerakan yang sangat pandai memperlihatkan pemberdayaan?
Pertanyaan itu penting karena pembangunan tidak berhenti pada apa yang terlihat.
Rumah yang sudah diperbaiki memang dapat difoto. Kolam yang sudah dibuat juga dapat ditunjukkan. Kandang yang sudah berdiri dapat menjadi bukti fisik sebuah intervensi. Tetapi foto tidak dapat menjawab apakah keluarga penerima manfaat benar-benar menjadi lebih sejahtera.
Ayam bisa dibagikan hari ini. Ikan bisa ditebar hari ini. Bibit bisa ditanam hari ini. Tetapi enam bulan kemudian, siapa yang memastikan semuanya masih berjalan?
Setahun kemudian, siapa yang mengukur hasilnya?
Dan ketika pendampingan pemerintah selesai, apakah warga masih mampu mengembangkan usaha tersebut?
Di situlah kata “berdaya” dalam HELAU harus diuji.
Sebab pemberdayaan bukan sekadar memberikan sesuatu kepada masyarakat. Pemberdayaan berarti membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola, mengembangkan dan mempertahankan sesuatu secara mandiri.
Kalau setelah bantuan berhenti semuanya ikut berhenti, maka yang terjadi mungkin bukan pemberdayaan, melainkan sekadar pemindahan barang dari gudang program ke rumah warga.
Tentu saja itu bukan kesimpulan terhadap HELAU. Itu adalah pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh setiap program pemberdayaan.
Apalagi jika HELAU hendak ditempatkan sebagai best practice dan bahkan menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain.
Kalau mau menjadi contoh, tentu harus siap diperiksa.
Berapa jumlah penerima manfaatnya? Berapa yang benar-benar mengalami peningkatan pendapatan? Berapa kebun yang tetap produktif? Berapa kolam yang masih menghasilkan? Berapa kandang yang masih terisi? Berapa keluarga yang ekonominya membaik? Berapa rumah tangga yang semakin mandiri?
Dan pertanyaan yang tidak kalah penting: berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan perubahan tersebut?
Publik tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.
Itu adalah pertanyaan mendasar terhadap program yang menggunakan sumber daya publik.
Sebab anggaran pemerintah bukan uang tanpa pemilik. Uang tersebut berasal dari masyarakat dan harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk manfaat yang dapat dirasakan.
Karena itu, HELAU jangan hanya hijau di spanduk.
Jangan hanya elok ketika kamera datang.
Jangan hanya lestari dalam slogan.
Jangan hanya aman dalam narasi.
Dan jangan sampai “berdaya” menjadi kata paling indah dalam akronim, tetapi paling sulit dibuktikan di lapangan.
Inilah tantangan terbesar HELAU.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dapat menunjukkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Namun publik membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada dokumentasi kegiatan: data perubahan.
Kondisi sebelum program.
Kondisi setelah program.
Jumlah penerima.
Dampak ekonomi.
Keberlanjutan.
Biaya.
Dan hasil.
Jika data tersebut menunjukkan perubahan nyata, maka HELAU tidak perlu terlalu sibuk mencari legitimasi melalui label best practice. Keberhasilan akan berbicara dengan sendirinya.
Sebaliknya, jika program hanya kuat pada sisi konsep tetapi lemah pada pengukuran dampak, maka evaluasi harus menjadi bagian dari perjalanan HELAU.
Sebab ada perbedaan antara program yang terlihat berhasil dan program yang benar-benar berhasil.
Yang pertama membutuhkan dokumentasi.
Yang kedua membutuhkan bukti.
Dan pembangunan desa tidak boleh berhenti pada dokumentasi.
Ujian HELAU juga bukan ketika pejabat berkunjung, tamu datang, kamera menyala dan lingkungan ditata sedemikian rupa. Ujian sesungguhnya justru datang setelah rombongan pulang.
Ketika spanduk mulai kusam.
Ketika kamera sudah tidak ada.
Ketika anggaran memasuki tahun berikutnya.
Ketika program baru bermunculan.
Ketika perhatian pemerintah berpindah.
Apakah masyarakat masih mampu menjalankannya?
Jika iya, maka HELAU mulai menunjukkan arti sesungguhnya dari kata “berdaya”.
Namun jika tidak, mungkin ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum HELAU benar-benar layak disebut sebagai praktik terbaik.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan desa yang hanya terlihat bagus ketika dikunjungi. Masyarakat membutuhkan desa yang tetap bagus ketika tidak ada seorang pun yang datang melihat.
Masyarakat tidak membutuhkan bantuan yang hanya selesai dibagikan. Mereka membutuhkan kemampuan untuk mengubah bantuan menjadi kemandirian.
Dan masyarakat tidak membutuhkan slogan pembangunan yang panjang. Mereka membutuhkan hasil yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.
HELAU boleh menjadi hijau. HELAU boleh menjadi elok. HELAU boleh menjadi lestari dan aman. Tetapi tugas terberatnya tetap satu: membuktikan bahwa masyarakat benar-benar berdaya.
Sebab jika setelah semua program selesai warga masih harus menunggu bantuan berikutnya, maka yang perlu dievaluasi bukan keindahan desa, melainkan kedalaman pemberdayaannya.
Ruang News Indonesia
Berita dan informasi terbaru, terupdate, dan terpercaya.
#RuangNewsIndonesia #DesaHELAU #LampungSelatan #OpiniRedaksi #PemberdayaanMasyarakat #PembangunanDesa #Transparansi #Akuntabilitas #KetahananPangan #DesaBerdaya #KontrolPublik #LampungSelatanHariIni













