Jakarta, Ruang News Indonesia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan para relawan terus memaksimalkan percepatan penanganan darurat bencana di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Seluruh upaya dipimpin langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dengan prioritas pada operasi pencarian dan pertolongan (SAR), pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolasi, serta percepatan distribusi logistik melalui jalur darat dan udara.
166 korban meninggal dunia di Sumatra Utara
Memasuki hari ketiga status tanggap darurat, jumlah korban meninggal dunia di Sumatra Utara meningkat menjadi 166 jiwa, sementara 143 orang masih hilang. Dampak terparah terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
“Sumatra Utara sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian dan pertolongan oleh tim gabungan yang dipimpin Basarnas. Kemudian ada 103 jiwa yang masih hilang,” ujar Suharyanto, Sabtu (29/11/2025).
Ribuan warga mengungsi akibat kerusakan permukiman dan terputusnya akses. Jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan maupun Sibolga–Tarutung putus total, disusul runtuhnya Jembatan Pandan serta jembatan Sibolga–Manduamas.
BNPB mengerahkan lima helikopter perbantuan yang dipusatkan di Bandara Silangit untuk mempercepat mobilisasi SAR dan distribusi logistik. Helikopter BNPB, Heli TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, hingga helikopter mitra swasta beroperasi penuh didukung pesawat Cessna Caravan.
Pengiriman logistik tahap pertama ke Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan sudah 100% terpenuhi, sementara Mandailing Natal masih terkendala akses darat.
47 korban meninggal dunia di Aceh
Pada hari kedua status tanggap darurat, Provinsi Aceh mencatat 47 korban meninggal dunia, 51 hilang, dan 8 luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga dengan sebaran terbesar di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
“Untuk wilayah Aceh ada 47 korban meninggal, 51 hilang dan 8 luka-luka. Data ini diperkirakan terus berkembang karena operasi SAR gabungan masih berlangsung,” ungkap Suharyanto.
Kerusakan jembatan dan jalan nasional mengakibatkan terputusnya akses utama, termasuk jalur Banda Aceh–Lhokseumawe dan perbatasan Aceh–Sumut di Aceh Tamiang. Beberapa wilayah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah masih belum dapat ditembus.
BNPB mengaktifkan komunikasi darurat berbasis satelit (Starlink) di wilayah terisolasi dan memperkuat distribusi logistik melalui udara. Dua helikopter BNPB ditempatkan di Bandara Sultan Iskandar Muda untuk operasional cepat.
90 korban meninggal dunia di Sumatra Barat
Dua hari setelah penetapan status tanggap darurat, Sumatra Barat mencatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 luka-luka. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi.
Tercatat 77.918 jiwa (11.820 KK) mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Longsor dan kerusakan jembatan memutus akses provinsi dan nasional, sehingga distribusi dilakukan melalui jalur udara pada delapan titik tambahan yang masih dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.
Pesawat Caravan dan helikopter Bell 505 menjadi armada utama distribusi ke wilayah yang belum bisa dilalui melalui darat.
BNPB pastikan penanganan terintegrasi
BNPB menegaskan percepatan penanganan darurat dilakukan melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, K/L, TNI, Polri, dan seluruh relawan. Prioritas utama meliputi: ✔ Operasi SAR lanjutan
✔ Pembukaan akses wilayah terisolasi
✔ Pendataan lanjutan korban dan kerusakan
✔ Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi
Upaya penanganan dipastikan berlanjut hingga seluruh wilayah terdampak pulih secara bertahap.
Ruang News Indonesia terus memantau perkembangan penanganan bencana di tiga provinsi. Pemerintah bekerja — masyarakat menunggu harapan kembali pulih. Semoga pemulihan bukan hanya wacana, melainkan kenyataan bagi seluruh penyintas bencana.













