Refleksi Akhir Tahun 2025: Lampung Selatan, Negeri Proyek Cepat Rusak dan Janji yang Tahan Lama

Oleh: Redaksi Ruang News Indonesia

Lampung Selatan – Akhir Tahun 2025
Jika pembangunan dinilai dari banyaknya papan proyek, Lampung Selatan patut berbangga. Namun jika diukur dari ketahanan hasilnya, tahun 2025 justru menutup catatan dengan tanda tanya besar. Jalan baru dibangun, lalu rusak lebih cepat dari baliho ucapan selamat pejabat yang mulai pudar.

Prestasi Semu: Banyak Dibangun, Cepat Ditinggalkan

Sepanjang 2025, pembangunan terus digaungkan. Rekonstruksi jalan, peningkatan infrastruktur, dan berbagai program strategis dipamerkan sebagai bukti kerja nyata. Sayangnya, sebagian hasilnya lebih cocok disebut proyek musiman—hadir saat anggaran cair, menghilang saat hujan turun.

Beberapa ruas jalan yang dibangun pada 2022–2024 kini kembali berlubang, retak, dan bergelombang. Ironisnya, kerusakan itu terjadi saat masa pertanggungjawaban hukum seharusnya masih berlaku. Namun tanggung jawab kerap ikut terkubur bersama aspal yang mengelupas.

Bantuan Sosial: Obat Pereda, Bukan Penyembuh

Program bantuan sosial tetap berjalan. BLT Dana Desa, bantuan pangan, hingga program Makan Bergizi Gratis menjadi penyangga hidup masyarakat. Sayangnya, bantuan ini sering hadir sebagai penenang sementara, bukan solusi jangka panjang.

Kemiskinan ditekan dengan bansos, pengangguran ditenangkan dengan janji, sementara akar persoalan dibiarkan tumbuh subur. Masyarakat diberi ikan, tapi kolamnya terus dikuras.

Pengawasan Tumpul, Kritik Dianggap Gangguan

Berbagai dugaan penyimpangan anggaran, pengurangan volume, hingga proyek bermasalah silih berganti mencuat. Namun respons yang muncul sering kali normatif, defensif, bahkan cenderung alergi terhadap kritik.

LSM dan aktivis yang bersuara kerap dianggap pengganggu stabilitas, bukan mitra kontrol. Padahal tanpa kritik, kekuasaan hanya sibuk bercermin dan lupa bercermin pada rakyat.

Birokrasi: Lambat Tapi Konsisten

Pelayanan publik di sejumlah sektor masih mempertahankan ciri khasnya: lambat, berbelit, dan minim empati. Aspirasi masyarakat sering berakhir sebagai notulen rapat, bukan kebijakan nyata.

Ketimpangan pembangunan antarwilayah terus terjadi. Daerah yang dekat kekuasaan tumbuh pesat, sementara wilayah pinggiran diminta bersabar—lagi dan lagi.

Harapan 2026: Jangan Ulangi Naskah Lama

Tahun 2026 diharapkan tidak lagi diisi dengan pola lama: anggaran besar, hasil rapuh, pengawasan lemah, dan tanggung jawab menguap. Lampung Selatan tidak kekurangan dana dan potensi, yang kurang adalah keberanian untuk jujur dan tegas pada diri sendiri.

Refleksi akhir tahun ini seharusnya bukan sekadar ritual seremonial, melainkan alarm keras bahwa rakyat mulai lelah dibohongi oleh laporan indah dan foto peresmian.

Sebab pembangunan sejati bukan tentang seberapa cepat proyek selesai, melainkan seberapa lama manfaatnya dirasakan. Jika jalan rusak lebih cepat dari ingatan publik, maka yang rusak bukan hanya aspal, tetapi juga kepercayaan.


Ruang News Indonesia tetap berdiri di luar barisan tepuk tangan, memilih berada di tengah suara rakyat yang sering diabaikan.

Kritik bukan kebencian. Satir bukan penghinaan. Ini adalah bentuk kejujuran ketika bahasa halus tak lagi didengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *