Lampung Selatan, Ruang News Indonesia — Persoalan sampah di Kabupaten Lampung Selatan terus bergulir bak drama panjang tanpa akhir. Ketika wacana pengolahan sampah modern terus dikumandangkan, justru di Kecamatan Katibung inovasi nyata sudah berjalan diam–diam tanpa tepuk tangan maupun konferensi pers.
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan limbah plastik telah dipilah dengan rapi sesuai jenisnya. Ember, botol, pot bunga, hingga plastik keras rumah tangga dipisahkan berdasarkan kategori sebelum masuk ke proses berikutnya. Tidak berhenti di situ, limbah yang sudah dicacah tampak dijemur di area terbuka untuk proses pengeringan, memperlihatkan bahwa sistem pengolahan di Katibung tidak lagi sekadar wacana, tetapi sudah bergerak menuju nilai ekonomis.
Meski masih sangat sederhana, seluruh proses pengolahan — mulai dari pemilahan hingga pencacahan dan pengeringan — dilakukan dengan konsistensi. Sementara itu, alat yang digunakan jauh dari teknologi canggih seperti yang sering ditampilkan dalam presentasi rapat pemerintahan. Namun nyatanya, inilah yang berhasil mengurangi sampah secara nyata tanpa bantuan dana besar maupun kunjungan kerja ke luar negeri.
Di sisi lain, publik masih menunggu hasil konkret dari kunjungan kerja Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama ke pabrik pengolahan sampah modern di Penang, Malaysia, pada 26 Oktober 2025. Kunjungan tersebut membawa misi mempelajari teknologi pengolahan limbah menjadi energi dan menawarkan harapan baru bagi masa depan lingkungan Lampung Selatan. Pertanyaannya, hingga kini belum terlihat langkah nyata yang terhubung langsung dengan implementasi sistem modern yang dipelajari di Penang.
Akankah kunjungan tersebut bertransformasi menjadi sistem pengolahan sampah modern atau hanya menjadi album foto perjalanan dinas? Pertanyaan ini semakin mengemuka ketika di Katibung justru sudah ada pelaku UMKM lokal yang mengolah sampah tanpa sorotan pemerintah, tanpa anggaran besar, dan tanpa fasilitas modern.
Hal yang paling dibutuhkan saat ini bukan tambahan janji, tetapi dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Bentuknya bisa berupa bantuan permodalan, mesin pengolahan, pelatihan teknologi ramah lingkungan, hingga regulasi yang mempermudah pengembangan usaha pemanfaatan limbah. Jika pemerintah hadir secara konkret, setidaknya sebagian besar sampah plastik tidak berakhir mencemari lingkungan.
Kini publik menunggu bukti, bukan slogan. Jika UMKM di Katibung saja mampu menjalankan pengolahan limbah sendirian, seharusnya pemerintah dapat mempercepat perubahan dengan bantuan yang terarah, bukan sekadar kunjungan seremonial.
Ruang News Indonesia akan terus mengawal perkembangan ini, karena lingkungan tidak membutuhkan pidato panjang; yang dibutuhkan adalah tindakan.
Jika terdapat kekeliruan dalam penulisan berita ini, Ruang News Indonesia akan melakukan perbaikan sesuai dengan kaidah Kode Etik Jurnalistik.













