Lampung Selatan, Ruang News Indonesia — Di sudut Dusun Suka Negara, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, realitas pahit itu benar-benar ada. Bukan cerita fiksi, bukan pula sekadar angka statistik kemiskinan. Darsono (47) menjalaninya setiap hari—dalam diam, dalam gelap, dan dalam keterbatasan yang nyaris tak tersisa harapan, Sabtu (4/4/2026)
Sudah lebih dari satu tahun, tubuhnya lumpuh total. Kedua matanya pun tak lagi mampu menangkap cahaya. Dunia bagi Darsono kini hanya sebatas ruang sempit di dalam rumah yang kondisinya jauh dari layak huni.
Tak ada langkah, tak ada arah. Hanya tubuh lemah yang terbaring di atas kasur usang, yang bahkan tak lagi pantas disebut tempat istirahat. Setiap hari, ia menatap kosong ke arah langit-langit rumah yang rapuh—seolah mencoba mencari jawaban atas nasib yang tak pernah ia pilih.
Sesekali, terdengar rintihan pelan. Bukan sekadar keluhan fisik, melainkan jeritan batin yang lama terpendam. Pertanyaan sederhana namun menyayat terus berulang di benaknya: mengapa hidup harus seberat ini?
Ironisnya, di tengah kondisi yang begitu memprihatinkan, perhatian yang datang masih jauh dari cukup. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Darsono tidak mendapatkan perawatan yang layak. Akses terhadap layanan kesehatan, bantuan sosial, hingga perhatian serius dari pihak terkait seakan berjalan lambat—atau bahkan nyaris tak terlihat.
Di atas kertas, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan terus mendorong program pengentasan kemiskinan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lampung Selatan. Berbagai indikator disebut menunjukkan tren positif, laporan kinerja disusun rapi, dan capaian pembangunan terus dipublikasikan.
Namun di ruang sempit tempat Darsono terbaring, kemajuan itu tak hadir.
Tidak ada grafik yang mampu mengangkat tubuhnya. Tidak ada angka pertumbuhan yang memperbaiki rumahnya. Dan tidak ada laporan keberhasilan yang menjawab kebutuhan paling mendasar: perawatan, perlindungan, dan kepastian hidup layak sebagai warga Kabupaten Lampung Selatan.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru menjadi simbol keterpurukan. Dinding yang rapuh, fasilitas yang minim, dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung mempertegas bahwa Darsono hidup dalam situasi darurat kemanusiaan—di wilayah Kabupaten Lampung Selatan yang terus berbicara tentang kemajuan.
Di sinilah peran pemerintah daerah diuji. Bukan pada seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Selatan, tetapi pada seberapa jauh kebijakan itu menjangkau warga yang paling membutuhkan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan hanya pada laporan pembangunan, melainkan pada nasib warganya yang paling rentan.
Kisah Darsono menjadi kontras yang sulit diabaikan. Ia membuka jarak antara klaim dan kenyataan, antara data dan kondisi riil di Kabupaten Lampung Selatan.
Harapan itu masih ada. Namun tanpa langkah nyata dari pemerintah daerah Kabupaten Lampung Selatan, harapan hanya akan menjadi pengulangan janji.
Jika program pengentasan kemiskinan benar berjalan efektif di Kabupaten Lampung Selatan, maka kasus seperti Darsono seharusnya tidak berlangsung selama ini.
Dan jika masih terjadi, maka publik berhak bertanya—lebih keras dari sebelumnya: apakah kemajuan Kabupaten Lampung Selatan benar dirasakan semua, atau hanya berhenti di atas kertas?
Ruang News Indonesia akan terus mengawal dan menghadirkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Fakta di lapangan adalah cermin yang tak bisa ditutup-tutupi—bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem di tengah klaim kemajuan daerah.
Kami percaya, informasi bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menggugah kepedulian dan mendorong perubahan nyata.
Ruang News Indonesia — Berita dan Informasi Terbaru, Terupdate, dan Terpercaya.
#RuangNewsIndonesia #LampungSelatan #Katibung #FaktaLapangan #Kemiskinan #KeadilanSosial #SuaraRakyat #BukaMata #PeduliSesama #IndonesiaBicaraq













