Lampung Selatan, Ruang News Indonesia – Jika disiplin diukur dari seberapa sering ia disebut, birokrasi Lampung Selatan mungkin sudah sangat tertib. Sayangnya, masyarakat menilainya dari hal lain: pelayanan.
Pagi itu, barisan ASN Lampung Selatan berdiri rapi di Lapangan Korpri, Kalianda. Seragam cokelat licin, topi tegak, dan naskah amanat siap dibacakan. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Lampung Selatan, M. Darmawan, memimpin apel mingguan ASN pada Senin (26/1/2026). Apel rutin pekan pertama Februari 2026 tersebut diikuti jajaran pejabat pimpinan tinggi pratama, kepala perangkat daerah, pejabat administrator, pejabat fungsional, hingga seluruh ASN—baik PNS, PPPK, maupun PPPK Paruh Waktu.
Dalam amanat yang disampaikan atas nama Bupati Lampung Selatan, Darmawan kembali menegaskan pentingnya disiplin dan peningkatan kinerja sebagai kunci pelayanan publik yang berkualitas. Disiplin, kata dia, bukan semata kepatuhan pada jam kerja atau aturan administrasi, melainkan cerminan tanggung jawab, integritas, dan komitmen sebagai pelayan masyarakat.
Pesan itu terdengar luhur dan normatif. Publik tak asing mendengarnya. Sebab seruan serupa telah lama menjadi menu tetap apel ASN, diulang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya tetap sama dan belum terjawab: jika disiplin kian sering diserukan, mengapa keluhan pelayanan publik masih terus berulang?
Ajakan meningkatkan etos kerja, profesionalisme, serta bekerja dengan keikhlasan kembali disampaikan. Darmawan mengingatkan bahwa setiap tugas, sekecil apa pun, berdampak pada kualitas pelayanan dan kepercayaan publik. Ironisnya, justru dari tugas-tugas kecil itulah keluhan warga kerap bermula—berkas tertunda, informasi tak jelas, dan prosedur yang lebih sibuk melayani dirinya sendiri.
Seruan bekerja dengan hati dan sepenuh jiwa terdengar menenangkan. Namun tanpa pengawasan tegas dan evaluasi kinerja yang sungguh-sungguh, hati sering kalah oleh rutinitas. Integritas yang diagungkan dari podium kerap menguap di lorong-lorong kantor, tempat disiplin diuji bukan oleh mikrofon, melainkan oleh warga yang menunggu kepastian.
Apresiasi dan ucapan terima kasih kepada ASN tentu layak. Tetapi publik juga menanti keberanian yang lain: keberanian mengakui bahwa disiplin birokrasi belum sepenuhnya bekerja. Kepercayaan masyarakat tidak tumbuh dari barisan apel yang rapi, melainkan dari pelayanan yang cepat, jelas, dan tak berbelit.
Jika disiplin benar-benar hendak dimaknai sebagai komitmen melayani, ukurannya sederhana—bukan seberapa sering ia diucapkan setiap Senin pagi, melainkan seberapa jarang warga harus mengeluh. Jika tidak, disiplin akan terus setia hadir di lapangan, namun tetap absen saat rakyat benar-benar membutuhkan.
Ruang News Indonesia
Berita dan informasi terbaru, terupdate, dan terpercaya.













