Lampung Selatan, Ruang News Indonesia – Di tengah suasana khidmat Safari Ramadhan, Bupati Radityo Egi Pratama melakukan langkah yang tak biasa: melantik tiga pejabat eselon II dan menunjuk satu pelaksana tugas (Plt) di Masjid Masjid Manarul Islam, Desa Canggung, Kecamatan Rajabasa, Selasa (3/3/2026).
Prosesi yang umumnya digelar di aula pemerintahan itu kali ini berpindah ke rumah ibadah. Pesannya terdengar luhur—jabatan adalah amanah, integritas adalah harga mati. Namun, publik mafhum, setiap rotasi birokrasi selalu menyimpan dua wajah: penyegaran organisasi atau sekadar reposisi gerbong kekuasaan.
Dalam pelantikan tersebut, Drs. Edy Firnandi, M.Si. resmi dikukuhkan sebagai Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah setelah sebelumnya merangkap sebagai Plt di posisi itu sekaligus menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Kursi Dukcapil yang ditinggalkannya kini diisi Anton Carmana, SE, yang sebelumnya menjabat Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik.
Sementara itu, jabatan Staf Ahli Bupati beralih ke Anasrullah, S.Sos., MM, yang sebelumnya memimpin Dinas Komunikasi dan Informatika. Kekosongan di Kominfo untuk sementara dipercayakan kepada Hendry Kurniawan, SH, MM sebagai Plt hingga pejabat definitif ditetapkan.
Di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir, Bupati Egi menekankan simbolisme pelantikan di bulan suci. “Saudara dilantik di tempat yang suci, di bulan yang suci, dan disaksikan langsung oleh masyarakat. Ini amanah besar yang harus dijaga,” ujarnya.
Pernyataan itu terdengar normatif—sebagaimana lazimnya pidato pelantikan. Namun pertanyaannya selalu sama: sejauh mana pergerakan “gerbong” ini berbanding lurus dengan percepatan pelayanan publik? Apakah Dukcapil akan lebih sigap mengurus administrasi kependudukan? Apakah Kominfo akan lebih adaptif menghadapi tantangan digitalisasi? Atau publik hanya menyaksikan perpindahan kursi dalam lintasan yang sama?
Bupati Egi menyebut rotasi sebagai bagian dari penataan organisasi agar lebih efektif dan responsif. “Penyegaran ini hal biasa dalam organisasi untuk memperkuat kinerja tim,” katanya.
Dalam praktik birokrasi daerah, frasa “penyegaran” kerap menjadi diksi yang lentur—bisa berarti promosi, bisa pula sekadar penataan ulang keseimbangan internal. Apalagi pelantikan dilakukan di tengah Safari Ramadhan, sebuah momentum yang sarat makna spiritual sekaligus politis.
Usai prosesi, agenda dilanjutkan dengan Safari Ramadhan dan penyerahan bantuan sosial kepada anak yatim serta hibah pembangunan masjid. Simbol kepedulian sosial itu mempertegas pesan bahwa pemerintah ingin tetap hadir di tengah masyarakat, bukan hanya lewat struktur jabatan, tetapi juga melalui gestur empati.
Langkah ini menandai kembali bergeraknya “gerbong” di lingkungan Pemkab Lampung Selatan. Apakah gerbong itu melaju lebih cepat menuju pelayanan yang efektif, atau sekadar berpindah rel dalam lintasan yang sama—waktu yang akan menjawab.
Ruang News Indonesia akan terus mengawal dinamika kebijakan dan rotasi jabatan di Lampung Selatan, memastikan setiap kebijakan tak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar bermuara pada pelayanan publik yang transparan, akuntabel, dan berpihak kepada rakyat.
#RuangNewsIndonesia #LampungSelatan #SafariRamadhan #RotasiPejabat #GerbongBirokrasi #PelayananPublik













