Bandar Lampung, Ruang News Indonesia – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah “londo ireng” memunculkan beragam respons dari publik. Sejumlah pengamat, wartawan, aktivis, hingga organisasi masyarakat sipil memberikan tanggapan, baik berupa kritik maupun pembelaan. Dalam negara demokrasi, respons seperti itu merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi.
Namun, Redaksi Ruang News Indonesia berpandangan bahwa polemik ini tidak perlu berlarut-larut. Terlalu banyak energi bangsa yang habis hanya untuk memperdebatkan sebuah pernyataan, sementara masih banyak persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama.
Profesi wartawan, pengamat, akademisi, maupun lembaga swadaya masyarakat memiliki fungsi masing-masing sebagai bagian dari sistem demokrasi. Selama setiap pihak menjalankan tugas secara profesional, independen, dan berpegang pada kode etik serta ketentuan hukum yang berlaku, tidak ada alasan untuk saling mempertentangkan keberadaan satu sama lain. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab adalah bagian dari demokrasi, begitu pula ruang bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan kepada publik.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen bangsa dapat mengarahkan perhatian pada pekerjaan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat. Persoalan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, pemberantasan korupsi, hingga penguatan ketahanan pangan merupakan agenda yang jauh lebih mendesak daripada mempertahankan polemik yang tidak produktif.
Demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa keras perdebatan berlangsung, melainkan dari kemampuan seluruh elemen bangsa menjaga dialog yang bermartabat dan menghasilkan solusi. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, tetapi jangan sampai mengalihkan fokus dari tujuan besar pembangunan nasional.
Sebagai media, Ruang News Indonesia meyakini bahwa pers memiliki kewajiban menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional, akurat, berimbang, dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Demikian pula para pengamat dan organisasi masyarakat sipil yang bekerja sesuai kapasitas dan integritasnya. Kritik yang konstruktif akan selalu menjadi bagian penting dalam memperkuat pemerintahan dan demokrasi.
Pada akhirnya, publik lebih menantikan hasil kerja nyata dibandingkan polemik yang terus bergulir. Bangsa ini membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi; membutuhkan solusi, bukan sekadar kontroversi.
Opini ini merupakan pandangan Redaksi Ruang News Indonesia.













