Lampung Selatan (RuangNewsIndonesia.Com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, melontarkan peringatan keras yang menggema bagi seluruh jajaran pejabat di Lampung Selatan. Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, tetapi juga menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan, kontraktor, hingga pihak-pihak yang selama ini diduga kerap bermain dalam proyek APBD daerah tersebut.
Pernyataan bernada tegas dan emosional itu disampaikan Zulhas setelah pembukaan Lampung Selatan Festival 2025 di Pelabuhan Bandar Bakau Jaya, Jumat (14/11/2025). Di hadapan para pejabat, tokoh politik, dan undangan, Ketua Umum PAN tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak ingin kasus korupsi kembali menghancurkan nama baik Lampung Selatan—terutama setelah pengalaman pahit yang menimpa keluarganya.
Zulhas secara terbuka mengingatkan menantunya, Bupati Radityo Egi Pratama, agar tidak sekali pun mencoba bermain proyek.
“Saya sudah minta, Egi, jangan main-main proyek. Awas, saya sudah kapok. Jangan lagi main-main proyek,” ujarnya lantang.
Lebih dari sekadar peringatan personal, pesan Zulhas sesungguhnya menohok ke semua pejabat dan pihak-pihak yang selama ini disebut-sebut terlibat dalam praktik kotor proyek daerah.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemberitaan di Lampung Selatan ramai menyoroti dugaan proyek tidak sesuai spesifikasi, pembangunan asal jadi, hingga indikasi permainan tender di sejumlah dinas. Proyek jalan, bangunan fasilitas publik, dan pengadaan barang sering disorot karena kualitas yang tak sebanding dengan nilai anggaran.
Situasi inilah yang membuat peringatan Zulhas terasa sebagai bentuk “tamparan politik” bagi siapa pun yang selama ini diduga bermain di balik layar.
Zulhas mengingatkan bahwa tindakan tegas bukan hanya retorika. Ia menyinggung kasus yang dialami salah seorang anggota keluarganya, yang ditangkap KPK tahun 2018 dalam kasus suap proyek saat menjadi pejabat di Lampung Selatan, sebagai pelajaran pahit yang tidak akan dibiarkan terulang.
“Tidak boleh dan tidak ada yang nitip-nitip. Mau adik, keluarga, saudara, saya umumkan terbuka. Tidak ada yang boleh titip proyek! Tidak ada!” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menepis isu bahwa kedekatan politik atau hubungan keluarga dapat menjadi tameng bagi mereka yang ingin memonopoli proyek pemerintah.
Sebagai langkah konkret pencegahan korupsi, Zulhas secara langsung memerintahkan Sekretaris Daerah Lampung Selatan, Supriyanto, untuk melaporkan segala bentuk penyimpangan proyek, apa pun risikonya.
“Sekda, saya perintahkan, kalau ada apa-apa, lapor saya. Kalau kamu lapor, saya akan angkat kamu,” ujarnya memberikan jaminan perlindungan.
Instruksi tersebut juga menjadi sinyal kuat bahwa pemantauan proyek akan dilakukan ketat mulai dari tingkat tertinggi birokrasi hingga pelaksana di lapangan.
Zulhas menegaskan, apabila tidak ada pihak yang berani menegur Bupati atau pejabat lain yang diduga menyimpang, maka ia sendiri yang akan turun tangan.
“Kalau tidak ada yang berani negor Bupati, saya berani negor Bupati.”
Pernyataan ini mempertegas bahwa komitmennya bukan sekadar pesan internal keluarga, tetapi peringatan bagi semua pihak yang selama ini diduga mengambil keuntungan dari proyek daerah—mulai dari penyedia barang, kontraktor, hingga oknum pejabat yang bermain di balik proses tender.
Di akhir pesannya, Zulhas menegaskan bahwa Lampung Selatan harus dibangun dengan bersih, transparan, dan bebas dari praktik kotor.
“Kita ingin membangun Lampung Selatan lebih baik dan lebih maju.”
Kini, sorotan tertuju pada realisasi janji tersebut. Akankah peringatan keras Zulhas benar-benar mengakhiri praktik korupsi di Lampung Selatan, atau justru menjadi ujian bagi integritas para pejabat daerah? Waktu dan tindakan nyata yang akan menjawabnya.













