Lampung Selatan,Ruang News Indonesia – Di tengah narasi optimisme pembangunan dan klaim pertumbuhan ekonomi daerah, realitas di lapangan masih menunjukkan gambaran yang berbeda. Di Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, setidaknya terdapat dua potret kemiskinan yang mencerminkan kerasnya kehidupan sebagian warga: kisah Kakek Saliman serta pasangan lansia Kakek Dulhak dan Nenek Asmawati, Jumat (6/3/2026).
Potret Pertama: Kakek Saliman di Rumah Reyot
Kakek Saliman (62) menjalani hari-harinya di sebuah rumah bambu yang nyaris roboh di Dusun Tambang Besi, Desa Galih Lunik, Kecamatan Tanjung Bintang. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang sudah lapuk, sebagian bahkan menganga. Atapnya bocor ketika hujan turun, sementara lantai rumah masih berupa tanah.
Fasilitas dasar seperti kamar mandi tidak tersedia. Untuk memasak, keluarga masih menggunakan tungku tanah sederhana. Kondisi rumah tersebut jauh dari standar hunian layak.
Ironisnya, di tengah berbagai program bantuan sosial yang digulirkan pemerintah, nama Saliman disebut tidak pernah masuk dalam daftar penerima bantuan utama, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun program bedah rumah.
Padahal menurut warga sekitar, kondisi rumah Saliman tergolong paling memprihatinkan di dusun tersebut.
“PKH tidak dapat. Padahal rumahnya sudah mau roboh. Di dusunnya sudah banyak yang dapat bedah rumah, tapi yang dapat malah jauh lebih muda dari beliau,” ujar seorang warga kepada Ruang News Indonesia.
Potret Kedua: Kakek Dulhak dan Nenek Asmawati, Buruh Tani yang Bertahan
Potret kemiskinan lainnya dialami oleh pasangan lansia Kakek Dulhak dan Nenek Asmawati, yang juga tinggal di Dusun Tambang Besi, RT 002/RW 002 Desa Galih Lunik, Kecamatan Tanjung Bintang.
Di usia yang tidak lagi muda, keduanya masih harus bekerja sebagai buruh tani/perkebunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat mereka harus bertahan hidup dengan berbagai keterbatasan.
Dalam dokumen kependudukan yang diperoleh Ruang News Indonesia, keduanya tercatat memiliki latar pendidikan tidak atau belum sekolah, kondisi yang semakin mempersempit akses ekonomi mereka.
Meski disebut telah memiliki BPJS Kesehatan, namun bantuan sosial lain seperti PKH maupun program peningkatan kesejahteraan belum mereka rasakan secara nyata.
Dua kisah ini menunjukkan bahwa di satu wilayah yang sama masih terdapat warga yang hidup dalam kondisi ekonomi sangat rentan.
Ketika Angka 5,71% Bertemu Realitas Lapangan
Di sisi lain, angka 5,71 persen dipublikasikan sebagai capaian pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Selatan dalam setahun terakhir, bahkan disebut sebagai yang tertinggi di tingkat provinsi serta melampaui rata-rata provinsi dan nasional.
Secara matematis, angka tersebut tentu layak diapresiasi.
Namun Redaksi Ruang News Indonesia memandang bahwa setiap angka pertumbuhan tidak cukup berhenti pada klaim normatif dan narasi optimisme.
Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar statistik makro. Ia seharusnya tercermin pada realitas mikro masyarakat, seperti:
- daya beli masyarakat
- kestabilan harga kebutuhan pokok
- peningkatan pendapatan petani dan nelayan
- pertumbuhan UMKM
- serta penyerapan tenaga kerja yang nyata
Jika angka 5,71 persen benar mencerminkan ekspansi ekonomi yang solid, maka indikator sosial-ekonomi masyarakat pun seharusnya menunjukkan tren positif yang dapat diverifikasi publik.
Di sinilah transparansi data menjadi penting.
Klaim pertumbuhan ekonomi idealnya tidak hanya hadir melalui rilis pemberitaan, tetapi juga melalui data terbuka yang bisa diuji publik:
- bagaimana tren pengangguran di Lampung Selatan
- apakah angka kemiskinan benar-benar turun signifikan
- berapa kenaikan pendapatan riil per kapita
- apakah inflasi daerah terkendali
- sejauh mana proyek infrastruktur berdampak langsung pada ekonomi warga
Redaksi menilai, pembangunan yang sehat bukan hanya soal besar kecilnya angka, melainkan seberapa inklusif dampaknya.
Pertumbuhan yang hanya bertumpu pada belanja proyek atau akumulasi statistik tanpa efek nyata bagi masyarakat bawah berpotensi menjadi pertumbuhan semu—rapi dalam laporan, namun samar dalam kenyataan.
Kisah Kakek Saliman serta Kakek Dulhak dan Nenek Asmawati menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik pembangunan, masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan.
Kontrol publik terhadap klaim ekonomi bukan bentuk pesimisme, melainkan bagian dari demokrasi yang sehat. Angka yang kuat akan tetap kokoh meski diuji. Sebaliknya, angka yang lemah justru akan runtuh ketika dihadapkan pada fakta lapangan.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi bukan sekadar soal berapa persen dicapai, tetapi siapa yang benar-benar bertumbuh.
Ruang News Indonesia — Berita dan Informasi Terbaru, Terupdate dan Terpercaya
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini redaksi sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial pers. Redaksi Ruang News Indonesia membuka ruang hak jawab dan hak koreksi kepada pihak-pihak terkait sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Hak jawab dapat disampaikan secara tertulis kepada redaksi untuk dimuat secara proporsional sesuai ketentuan yang berlaku.
Penulis: Redaksi Ruang News Indonesia
#RuangNewsIndonesia
#LampungSelatan
#PotretKemiskinan
#PertumbuhanEkonomi
#BansosTepatSasaran
#AuditDanaDesa
#KeadilanSosial













